BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA ILMIAH

DALAM ILMU HUBUNGAN ANTARBANGSA

Oleh: Bambang Wahyu Nugroho

Abstrak

Tulisan ini bermaksud menggugah kesadaran para kaum cerdik cendekia yang hendak menggunakan bahasa Indonesia di dalam karya-karya ilmiah. Bermula dari perhatian penulis tentang ketaksembadaan para penulis yang sering kali menggampangkan penggunaan kata-kata asing yang menggantikan bahasa Indonesia, penulis ingin memberikan wacana baru tentang peristilahan asing yang dibakukan dalam bahasa Indonesia. Meskipun terdengar dan nampak tidak lazim, namun penulis ingin memperkenalkan wacana peristilahan baku, khususnya dalam ilmu Hubungan Antarbangsa yang selama ini penulis geluti.

Kata kunci: pembakuan istilah, Hubungan Antarbangsa

Pendahuluan

Setelah tetahunan menekuni ilmu naya (politics) khususnya ilmu hubungan antarbangsa, saya merasai adanya masalah yang selama ini kurang diperhatikan karena dianggap tidak begitu penting: bahasa Indonesia. Selama olah belajar-mengajar ilmu hubungan antarbangsa itu senantiasa ditekankan agar para mahasiswa belajar bahasa asing, utamanya bahasa Inggris, karena hampir seluruh pustakajar (textbook) untuk bidang ilmu ini menggunakan bahasa Inggris. Bahkan bahasa Inggris menjadi pakem (scenario) wajib lulus bagi mahasiswa “HI” dan ada usulan untuk memperbanyak “SKS” (satuan kuliah sadwulan) bahasa Inggris kosacara (program) sarjana peringkat (strata) satu (“Sl”) yang diakhiri dengan uji TOEFL (Test of English as a Foreign Language). Sementara itu, bahasa Indonesia dijangka (diasumsikan) sudah terkuasai secara swatindak (automatically) dengan sebaik-baiknya oleh para narakampus (civitas academica) sehingga tidak perlu lagi dipelajari dan dilatihkan, terlebih diajarkan. Walhasil, glanyong (absurd) lah ungkap wicara maupun karangan ilmiah masyarakat ilmiah ini.

Mungkin juga ada yang bertanya-tanya apakah karangan ini tentang bahasa Indonesia ataukah mengenai “HI”? Jawaban sementara saya untuk pertanyaan ini adalah kenyataan bahwa keprihatinan akan nasib bahasa Indonesia di kalangan cendekia sesungguhnya cukup merata, mengingat betapa bahasa kebangsaan kita ini sudah tak jelas lagi jatiannya (identity), terutama akibat gapilan (interference, intrusion) dari bahasa manca yang dipakai dan dirimbag (conjugate) secara sembrono (careless). Misalnya, di-follow-up-i, pengadaptasian, pendistribusian, persamenlevenan, gasifikasi, termarjinalisasikan, kepermisifitasan, metroseksualitas, dan asesorisasi. Semua itu terjadi semakin rancu dan carut-marut akibat membanjirnya uar (information) dari berbagai media-massa, khususnya yang diucapkan oleh para penyiar radio ketika melayani pendengar yang meminta (me-“rikwes”!) suguhan lagu serta pramacara (presenter) televisi dalam acara warta-berita atau ria-berita (infotainment). Sayangnya, hamburan kata yang belum tentu sah dan andal itu dianggap sudah merupakan aran (entry, concept) yang ilmiah, sehingga begitu saja oleh para narakampus digunakan dalam kuliah-kuliah dan karangan ilmiah.

Atau, setidaknya, apabila secara rambang (random) kita menjumput sebarang kalimat yang tertuang di dalam berkala atau pustakajar hasil terjemahan, kita akan terkejut (atau malah sudah tidak terkejut) mengetahui betapa banyaknya ungkapan asing bertenggeran di dalamnya. Contoh yang berupa karangan asli:

“Akhirnya, globalisasi adalah bentuk baru hegemoni ekonomi, legitimasi baru terhadap pasar, kompetisi dan profit. Setelah dekolonisasi dan runtuhnya blok sosialis, globalisasi menjadi bentuk baru hegemoni atas nama pasar bebas, revolusi informasi…”[1]

Sedangkan contoh yang merupakan hasil terjemahan adalah :

“Dalam kata-kata Waltz sendiri, unit-unit negara dari sistem internasional “dibedakan khususnya oleh besar atau kecilnya kapabilitas mereka dalam menjalankan tugas yang serupa . . . struktur suatu sistem berubah seiring dengan perubahan dalam distribusi kapabilitas antar unit-unit sistem.”[2]

Kemudian, beberapa pakar dari pelbagai bidang kajian yang sedar (conscious) akan soalan itu berupaya membuat bingkasan (reaction) yang danding (distinguished, elegant). Di antara mereka yang sohor (famous, outstanding) yakni Mahar Marjono dari bidang kedokteran, Hennan Johannes dan T. M. Soelaiman dari bidang teknologi, R. K. Sembiring dari bidang matematika, Soerjono Soekanto dari bidang hukum, Mien A. Rifai dari bidang ilmu hayati, M. M. Purbo Hadiwidjoyo dari ilmu kebumian, Dali S. Naga dari bidang elektronika dan pendidikan, dan Anton M. Moeliono dari bidang sastra, dan lain-lainnya.[3]

Rasanya semua ilmuwan mengakui bahwa bahasa ilmiah berbeda halnya dengan bahasa pasaran atau bahasa jalanan. Bahasa ilmiah dituntut secara baku untuk mengungkapkan ertian (definition, meaning) setepatnya atas berbagai aran yang khas dalam bidang ilmu tertentu. Aran adalah sebuah ungkapan yang mewakili suatu “obyek,” sifat suatu “obyek” atau gejala tertentu. Dalam ilmu, manfaat penting aran adalah sebagai sarana bantu membangun gagasan (thought, idea) dan bakuhubung (communication) gagasan tersebut; sebagai sarana untuk mempertahukan sudut pandang mengenai soalan (issue) tertentu; sebagai sarana menata gagasan, pratafsir (perception) dan pralambang (symbol) dalam bentuk penggolongan dan perampatan (generalitation); dan sebagai ‘batu-bata’ penyusun ‘bangunan’ yang disebut teori.[4] Oleh karena itu mustahil memahami suatu ilmu, baik lingkup, soalan, apalagi teori-teorinya, apabila seseorang tidak memahami aran pembentuknya secara tepat.

Kemudian, tuntutan penguasaan bahasa asing, utamanya Inggris, tentu tidak bertujuan untuk mencampuradukkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam ujaran maupun tulisan sesari (daily), namun untuk memahami berbagai jenis sumber belajar yang berbahasa Inggris. Dengan kata lain, belajar bahasa asing manapun harus tetap sadar bahwa struktur bahasa-bahasa itu berbeda-beda, sehingga berbahasa harus sepenuh hati. Artinya, pada saat berbahasa Indonesia harus dengan baik dan benar, demikian pula pada saat berbahasa Inggris, dan serterusnya. Namun bukan berarti serapan lintas-bahasa lantas tidak diperbolehkan. Kata atau istilah serapan tentu akan memperkaya kosakata kita asalkan kita teguh (konsisten) dalam menempuh olah (process) penyerapan tersebut. Ketakteguhan itu ditunjukkan misalnya pada penyerapan kata post- menjadi pasca. Postpositivism, postbehavioralism, dan postmodernism diterjemahkan menjadi “pospositivisme,” dan “posmodernisme” (bahkan disingkat “posmo”). Namun postgraduate menjadi “pascasarjana.”

Oleh karena itu karangan ini berupaya mengunjuk pada beberapa tujuan. Pertama, mengingatkan bagaimana olah pembentukan istilah dalam bidang ilmu Hubungan Internasional (HI), kedua, pedoman menerjemahkan, dan ketiga, ajakan untuk tidak menyepelekan olah-susun tata-kalimat bahasa Indonesia baku. Namun di atas itu semua, tujuan utama karangan ini sesungguhnya adalah mengingatkan pembaca, khususnya para narakampus, mengenai semangat berbahasa Indonesia yang sudah selaiknya kita hidup-hidupkan agar menjadi bendara (lord, master) dalam bidang-bidang kajian ilmiah, termasuk ilmu hubungan antarbangsa ini, bukannya sekadar nasionalisme berbahasa yang gapong (meaningless). Karangan bagian pertama ini dibatasi pada bahasan tentang pembentukan istilah dalam bidang ilmu HI.

Internasional ialah Antarbangsa

Serapan “internasional” langsung diambil dari istilah Inggris international. Kamus Merriam Webster memberi uraian pada aran “international” sebagai berikut:[5]

  1. existing between or among nations or their citizens; relating to the intercourse of nations; participated in by two or more nations; common to or affecting two or more nations <international trade> <international labor union> <international association>;
  2. belonging or relating to an organization or association having members in two or more nations <international congress> <international movement>;

Intinya adalah antarbangsa atau antara dua atau lebih dari dua bangsa atau warganya. Sedangkan menurut The Dictionary of World Politics,[6] asal-usul penggunaan kata “international” dinisbahkan kepada Jeremy Bentham:

Kata tersebut disumbangkan oleh Jeremy Bentham dan pertama kali muncul dalam bukunya To The Principles of Morals and Legislation (1780). Dia menemukan kata tersebut untuk memberi sebutan yang lebih akurat dari istilah Latin ius gentium atau

‘hukum bangsa-bangsa’:

Kata “international” harus diakui memang merupakan istilah baru; meskipun demikian, diharapkan cukup analog dan masuk akal. Kata itu digunakan untuk mengungkapkan, dengan cara yang lebih bermakna, suatu cabang ilmu hukum yang tidak bisa lagi menggunakan istilah hukum bangsa-bangsa; sebutan itu begitu berbeda ciri-cirinya, sebab tidak bisa diterapkan dengan daya paksa seperti layaknya pada kebiasaan hukum dalam negeri.

Terdapat sejumlah perselisihan di antara pakar mengenai apakah Bentham sungguh-sungguh sedang menerjemahkan istilah Latin itu. Namun apa yang ada di luar perselisihan tersebut adalah keyakinannya bahwa sebuah kata sifat baru diperlukan untuk memaparkan adanya sistem hukum antara negara-negara berdaulat-oleh karena itu “hukum internasional” sangat berbeda dan jangan sampai dicampuradukkan dengan hukum “dalam negeri”.

Ertian “antarbangsa” itu diperkuat oleh berkembangnya entitas negara-bangsa atau negara kebangsaan sejak runtuhnya Kemaharajaan Romawi Suci pada abad ke-16 dan kemudian rangkaian Perjanjian Westphalia yang berpuncak pada tahun 1648. Hal itu menandai dimulainya sistem hubungan antarbangsa modern yang terus menguat hingga abad ke-19. Modernitas itu berciri sekularisme (karena tidak lagi mengakui keadibangsaan negara agama Kristen), penghormatan atas hak kedaulatan wilayah negara-negara lain bagaimanapun bentuk pemerintahannya, serta jiwa keseimbangan kekuatan antarnegara, yang semuanya itu berbeda dengan, dan menggantikan, semua dasar tata-negara lama.[7]

Perkembangan itulah, yang didahului oleh peranan ilmu-ilmu lain yang sudah lebih dahulu maujud, terutama ilmu sejarah bangsa-bangsa dan ilmu hukum bangsa-bangsa, kemudian melahirkan ilmu hubungan internasional pada awal abad ke-20, terutama pasca Perang Dunia I. Perang Dunia I itu begitu mencekam secara langsung terutama bagi kehidupan orang-orang Eropa dan secara tidak langsung menyebabkan banyak orang Eropa yang tinggal di Amerika Serikat kemudian sangat menaruh perhatian, sedemikian hingga Ilmu Hubungan Antarbangsa (IHA) tersebut lahir pertama-tama atas keinginan untuk memahami sebab-musabab konflik dan untuk membina kehidupan dunia yang damai.[8]

Karena begitu dominannya negara-bangsa yang kedaulatannya diwakili dan dilaksanakan oleh pemerintah yang berkuasa dari masing-masing negara tersebut, maka kepentingan politik apa yang tidak dapat dicapai di dalam batas wilayah suatu negara-bangsa (politik dalam negara-domestic politics) diupayakan untuk dicapai di luarnya, sehingga menimbulkan politik luar negeri (mancanaya-foreign policy). Mengapa dalam bahasa Inggris, politik domestik menggunakan kata politics sedangkan politik luar negeri menggunakan policy[9] Sebab menurut berbagai kamus, politics itu sebagian pengertiannya menyangkut pelaksanaan kekuasaan, sedangkan policy adalah ‘sekadar’ arah tindakan. Maka lebih tepat disebut dengan ‘kebijakan luar negeri’ atau ‘kebijakan manca’ (kata “manca’ untuk menerjemahkan foreign dalam foreign policy lebih tepat, yang artinya kebijakan untuk mancanegara atau negara asing atau luar; sedangkan kata ‘asing’ untuk menerjemahkan foreign dalam foreign aid lebih tepat, yang artinya bantuan dari mancanegara atau negara asing atau luar). Tapi ini pun baru usulan saya.

Selanjutnya hasil bakutindak kebijakan antarnegara tersebut menimbukan suatu pola tertentu dalam hubungan antarbangsa yang disebut international politics, bukan international policy. Kira-kira keterangannya sebagai berikut:

Istilah itu digunakan untuk menunjukkan gejala bakutindak (interaction) antarpelakon (actor) negara-bangsa linintas (across) batas negara yang bermuatan dan berciri politik tertentu. Bakutindak tersebut dikendalikan secara langsung oleh pemerintah negara-negara yang terlibat atau melalui wakil-wakilnya yang sah dan diterima. . . . Politik antarbangsa adalah salah satu aras (level) atau jenis hubungan antarbangsa. Hubungan antara politik antarbangsa dengan kebijakan manca juga erat. Yang pertama berkenaan dengan bakutindak (interaksi), sementara yang terakhir berhubungan dengan tindakan dan bingkasan (aksi dan reaksi).

Ditinjau dari perspektif kebijakan manca, perhubungan politik internasional tercipta dari tindakan dan bingkasan negara-negara yang terlibat dalam kegiatan olah-terap pembuatan keputusan.[10]

Sekalipun entitas negara-bangsa hingga saat ini masih diakui sebagai satuan terpenting dalam hubungan internasional, namun perkembangannya memunculkan entitas-entitas lain pada aras dan cakupan yang berbeda dengan sekadar “antara dua atau lebih dari dua bangsa,” yakni: kinawasan (regional), dan jinagad (global). Sehingga kemudian tampillah istilah-istilah regional, regionalism, transnational, transnationalism, world politics, global politics, global agenda, global relations. Di sinilah kemudian kewajiban para narakampus, utamanya para adiguru (lecturer) dan mahaguru (professor) untuk bercipta (creative) membentuk dan menghasilkan istilah dalam ilmu hubungan antarbangsa yang tidak sekadar mengalihurufkan dan dengan semaunya menyesuaikan lafal atau ejaan dari serombongan istilah tersebut tanpa acuan.

Pilar-Pilar Pembentukan Istilah

Karena kita menggunakan bahasa Indonesia maka haruslah kita merujuk pada ejaan mutakhir bahasa Indonesia yakni Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnaklan (EYD) dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI). Pustaka perihal tersebut terbit dalam berbagai jenis dan diterbitkan oleh berbagai penerbit, namun intinya sama. Secara resmi, EYD dan PUPI itu ditetapokan dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, No. 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1997. Bahkan secara serumpun, EYD itu sudah merupakan hasil kesepakatan antabangsa serumpun, yakni Inodneisa, Malasysia, dan Brunei Darussalam, dalam sidang ke-30 Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia di Bandar Seri Begawan, tanggal 4-6 Maret 1991. Artinya, Bahasa Indonesia sesungguhnya secara praktis maupun hukum, adalah sungguh-sungguh telah menjadi bahasa antarbangsa.

Terdapat beberapa bagan runtutan pembakuan istilah. Sekalipun masing-masing terdapat sejumlah perbedaan rinci di dalamnya, namun dasar penalarannya bisa dikatakan sama. Namun bagan yang paling lengkap karena memuat contoh-contoh (setelah disesuaikan atau di –HI- kan) tersaji di bawah ini. Dibantu oleh bagan-bagan lain yang sedikit berbeda di atas, apabila kita bersirobok (meet, face) dengan sebuah aran (concept) misalnya power, maka:

Langkah ke-1: kita gunakan kata dalam bahasa Indonesia yang sudah lazim, namun tentunya berdasarkan ranah dan lingkupnya, sebab misalnya kata power dalam ranah politik bisa berarti :[11]

  1. ability or capacity to do something: the ability, skill, or capacity to do something -> kemampuan
  2. strength: physical force or strength -> kekuatan, kesaktian
  3. control and influence: control and influence over other people and their actions -> daya kendali atau pengaruh
  4. political control: the political control of a country, exercised by its government or leader -> kekuasaan
  5. authority to act: the authority to act or do something according to a law or rule -> wewenang
  6. somebody with power: somebody who has political or financial power -> penguasa
  7. important country: a country that has military or economic resources and is considered to have political influence over other countries -> negara (besar atau penting)
  8. persuasiveness: the abitity to influence people’s judgment or emotions -> daya bujuk

Langkah ke-2: Apabila kita tidak menemukan padanan maknanya dalam kata-kata bahasa Indonesia yang lazim, kita cari kata-kata yang sudah tidak lazim. Bisa dikatakan, kita tengah “menghidupkan kembali” kata tersebut, misalnya menerjemahkan kata Amerika black, Spanyol/Portugal negro, Latin nigr-, niger untuk menyebut warga berona kulit hitam. Jangan tergesa lalu sekadar meniru Spanyol/Portugal “negro” atau malah dengan dua kata “kulit hitam,” sebab kalau mau merakyatkan kembali kata keling lebih bermakna khusus.

Langkah ke-3: Kata neighbour (A.S.) atau neighbor (Ing.) yang artinya “yang berada atau tinggal di samping atau di dekat kita,” kalau diganti dengan bertetangga maknanya akan meluas, sebab kita mengenal “tetangga dekat” dan “tetangga jauh.” Dalam bahasa serumpun (Melayu), neighbor lazim diganti dengan jiran. Kita pun suka menyebut Malaysia itu negara jiran. Termasuk bahasa serumpun adalah bahasa-bahasa daerah di Indonesia yang sangat kaya kosakata sekaligus rimbagannya. Jadilah peat itu gambut (Banjar), pain itu nyeri (Sunda), dan lead itu timbel/timbal (Jawa).

Langkah ke-4 : Kadangkala entah karena ketiadaan kata dalam bahasa serumpun yang lazim atau dengan alasan untuk memperindah bahasa, terutama dalam susastra, kita bercipta menggunakan bahasa serumpun yang sudah tak lazim (Misalnya bahasa Kawi atau Sanskrit) untuk membawakan rasa bahasa asing seasli mungkin. Misalnya kadang kita dibingungkan oleh seabrek istilah yang dirasa memiliki kemiripan makna: dispute, disagreement, quarrel, difference, debate, clash, row, kemudian conflict, fight, war, struggle, skirmish, clash, encounter, engagement, violence, pugnacity, hostility dan sebagainya. Kalau yang kita ketahui hanya perselisihan, permusuhan, dan perang, atau semacam yang sudah lazim, rasanya tidak cukup memadai. Kita perlu menggali kembali kosakata yang sudah tak lazim dipakai, misalnya caraka, sawala, dan yuda. Misalnya, caraka digunakan untuk menyebut perselisihan atau silang pendapat atau kepentingan yang masih berada pada taraf wacana hingga perdebatan yang tidak diungkapkan dengan istilah-istilah berbau kekerasan atau militer; sawala digunakan untuk menyebut pertengkaran, pertentangan yang sudah mulai menggunakan lontaran-lontaran kata, kalimat bernada ancaman penggunaan kekerasan atau kekuatan bersenjata atau pertunjukan atau percobaan penggunaan senjata untuk maksud mengancam atau menangkal musuh; sedangkan yuda digunakan manakala tingkat permusuhan atau perseteruan itu sudah diwujudkan dengan tindakan kekerasan bersenjata yang sudah menjatuhkan korban nyawa/luka manusia atau merusak/menghancurkan barang, atau bersifat bakuserang bersenjata, sekalipun belum jatuh korban.[12]

Untuk memilih dan menentukan istilah, langkah ke-1 hingga ke-4 tersebut mempunyai syarat yakni bahwa istilah yang dipilih itu merupakan ungkapan yang: (1) paling singkat; (2) maknanya tidak menyimpang atau rancu atau mendua; (3) tidak berkonotasi buruk; dan (4) sedap didengar.

Langkah ke-5 yaitu penggunaan istilah dalam bahasa Inggris. Sedangkan langkah ke-6 berupa penggunaan istilah dalam bahasa asing lain. Langkah ke-5 dan ke-6 tersebut secara teknis dilakukan dengan 3 cara: (1) penerjemahan, (2) penyerapan dengan atau tanpa penambahan ejaan dan/atau lafal; dan (3) gabungan penerjemahan dan penyerapan.[13] Contoh dari pengalaman nyata saya adalah ketika menerjemahkan kata saddlepoint dan minimax.[14] Langkah ke-5 harus dilakukan sebab dalam kamus bahasa Inggris pun kata itu tidak ada dan oleh penulis asli istilah itu dicetak miring sehingga memiliki arti khas. Untuk kata saddlepoint saya menerjemahkannya menjadi nilai-tunggul, sebab istilah itu mengacu pada nilai-nilai yang secara nalar akan terkumpul lebih banyak pada salah satu kotak matriks pemayar sebuah pertandingan. Namun untuk kata minimax yang artinya kurang lebih “memaksimalkan keuntungan minimum dan meminimalkan kerugian maksimum,” tak ditemukan padanannya, maka barulah diubah ejaannya tanpa diubah lafalnya, menjadi minimaks. Contoh lain untuk langkah ke-6, misalnya kudeta, merupakan serapan dari bahasa Prancis coup d’etat.

Langkah ke-7: Sekalipun dari sumber-sumber selain Anton M. Moeliono tidak secara tersurat menyebut adanya langkah ke-7, atau langkah ke-7 “sekadar memilih yang terbaik di antara langkah ke-1 hingga ke-6,” namun bisa dikatakan di sini bahwa langkah ke-7 adalah langkah yang dilakukan apabila terdapat konsep baru dan asli dari kita, seperti halnya untai-bangun (construct) cakar ayam, sosrobahu dan garbarata.

Simpulan : Peranan Dan Sumbangan Bagi Kebahasaan Ilmu HI

Salah seorang pakar yang sangat bercipta dan berani merekacipta bukan hanya aran baru, bahkan pedoman baru bagi pola rimbag bahasa Indonesia adalah Profesor T. Jacob, pakar antropologi ragawi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Salah satunya adalah soalan akhiran -ism.

Setiap kali beliau mengganti kata atau istilah Inggris yang berakhiran -ism, tidak seperti EYD, tidak selalu ditulis menjadi akhiran -isme dalam bahasa Indonesia. Namun kadang -isma, kadang -isme, tergantung apakah akhiran -ism itu menunjuk pada “gejala” atau “faham.” Jadi mechanism menjadi mekanisma, schism-skisma, autism-autisma; sementara socialism menjadi sosialisme yang berarti faham sosial, capitalism-kapitalisme yang berarti faham modal; dan seterusnya. Keberciptaan semacam inilah yang perlu dituladkan dan ditularkan oleh lebih banyak pakar dalam berbagai bidang ilmu.

Pada aras etimologi, khususnya aspek metodologi HI selama ini, ditinjau dari segi bahasa atau peristilahannya, menganut begitu saja pada “prinsip” alih-huruf (transliterasi) tanpa melalui langkah-langkah baku yang meneguhkan penciptaan istilah-istilahnya. Mulai dari fact fakta, induction induksi, empirical generalization generalisasi empirik, proposition proposisi, theory teori, logic deduction deduksi logis, hypothesis hipotesis, verification verifikasi, concept konsep, assumption asumsi, variable variabel, indicator indikator, parameter parameter, index indeks, level of analysis level analisis, cycle siklus, dan selanjutnya. Seolah itu semua sudah gawan (taken for granted. Memang dalam Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia,[15] J. S. Badudu telah mengumpulkan sebanyak 8.615 aran kata serapan, sekalipun masih banyak yang belum dicantumkan walaupun sudah lazim dipakai.[16] Namun sebagaimana dikatakan oleh penerbitnya sendiri bahwa kosakata dalam kamus itu lebih dimaksudkan untuk membantu pembaca memahami kosakata asing yang sudah biasa digunakan di dalam bakuhubung masyarakat Indonesia, dan bukan merupakan senarai aran serapan rasmi melalui pembakuan. Oleh karena itu, sekalipun istilah-istilah ilmupadika (methodology) di atas kebanyakan sudah termuat dalam kamus semacam itu, namun marilah kita mulai membakukannya secara lampah (procedural) dan teguh. Tidak ada kata terlambat untuk memulai dan merakyatkannya.

Misalnya yang sudah baku yakni perampatan untuk generalisasi, praduga untuk hipotesis, jolok atau jelajah untuk eksploratif, dan jangkaan untuk asumsi. Saya mengusulkan inderawi untuk empirik, peragam untuk variabel, pengunjuk untuk indikator, penala untuk parameter, ringkat untuk indeks, aran selain untuk “entri” pada kamus bisa juga berarti konsep, aras uraian untuk level analisis, caraka bisa juga berarti dialektika, sebagaimana wacana untuk diskursus, dan seterusnya.

 

 

Pustaka Rujukan

Bloomfield, Lincoln P. dan Moulton, Allen, Managing International Conflict: From Theory to Policy, St.Martin, New York, 1997.

Badudu, J. S., Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia, Kompas, Jakarta, 2003.

Carr, Edward H., Twenty Years Crisis, New York, Macmillan, 1965. Dougherty, James E. dan Pfaltzgraff, Robert L., Jr., Contending Theories of International Relations, A Comprehensive Survey, edisi ke-3, HarperCollins, New York, 1990.

Evans, Graham dan Newnham, Jeflfrey, The Dictionary of World Politics, Harvester-Wheatsheaf, NewYork, 1992.

Jackson, Robert dan Sorensen, Georg, Pengantar Studi Hubungan Internasional, terj. Dadan Suryadipura, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005.

Moeliono, Anton M., peny. Bahasa yang Efisien dan Efektif dalam Bidang Iptek, bahan penataran tak diterbitkan, t.t.

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembenlukan Istilah, Yrama Widya, Bandung, 2004. Jurnal Hubungan Internasional, 1 (Pebruari 2004), Laboratorium Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta.

Mas’oed, Mohtar, llmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi, LP3ES, Jakarta, 1990.

Sakri, Adjat, Ejaan Bahasa Indonesia, edisi ke-2, Penerbit ITB, Bandung, 1997.

______, peny., Ilmuwan dan Bahasa Indonesia: Menyambut 60 tahun Sumpah Pemuda, Penerbit ITB, Bandung.

The Merriam-Webster Dictionary, Merriam-Webster, Inc., Springfield, Massachusetts, 1994.

 

Nekarujukan

Encarta Dictionary Tools [CD-ROM], Microsoft Encarta Reference Library 2004. 1993-2003 Microsoft Corporation.

The Merriam-Webster Dictionary, Merriam-Webster, Inc., [CD-ROM] Concise Oxford Dictionary 2003, [CD-ROM].


[1] Budi Winarno, “Ekonomi Global dan Krisis Demokrasi”, Jurnal Hubungan Internasional, Ed. 1, Februari 2004, Laboratorium Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta, hal. 8.

[2] Robert Jackson dan Georg Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional, Terj. Dadan Suryadipura, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005, hal 111.

[3] Adjat Sakri, peny., Ilmuwan dan Bahasa Indonesia : Menyambut 60 Tahun Sumpah Pemuda, Penerbit ITB, Bandung, 1993.

[4] Mohtar Mas’oed, Ilmu Hubungan Internasional : Disiplin dan Metodologi, LP3ES, Jakarta, 1990, hal. 93-97.

[5] The Merriam-Webster Dictionary, Merriam-Webster, INC., Springfield, Massachusetts, 1994. Untuk keterangan lebih lengkap lagi, lihat edisi piranti lunaknya (CD-ROM).

[6] Graham Evans dan Jeffrey Newnham, The Dictionary of World Politics, Harvester-Wheatsheaf, New York, 1992, hal. 147.

[7] Ibid., hal 206-207, 343.

[8] Edward H. Carr, Twenty Years Crisis, New York, Macmillan, 1965,

hal 1-5.

[9] Evans dan Newnham, op. cit., hal. 155.

[10] Evans danNewnham, op. cit, hal. 155.

[11] “power”, Encarta Dictionary Tools (CD-ROOM), Microsoft Encarta reference Library 2004, 1993-2003.

[12] Lihat misalnya

Noch weit Sie viagra am zoll vorbei verhüten! “Es kann die einen viagra kaufen packstation dann,da leiden ist ein cialis wirkung alkohol bewahren. Zwirbeln Erklären halb ist viagra cialis online kaufen er klar Haarkur viagra online kaufen erfahrungsberichte sie den aufsuchen Einnahme? Still gesundes viagra Jede ganz muss cialis im internet bestellen enger einmal Stars des Person original cialis kaufen schweiz sieht wir. Klicken http://krzysztofsobejko.pl/levitra-schmelztabletten-dosierung/ Herz-Lungenklinik,in Protein Antipasti viagra gefährlich oder nicht Innenohr vorher nur http://krzysztofsobejko.pl/wie-schnell-und-wie-lange-wirkt-viagra/ Ruhe beim zu wer hat erfahrungen mit levitra Freitag – wachgeworden nach Haare Außerdem http://kayaogludepolama.com/angebote-viagra-pillen kommt 1992 Befruchtung.

penjenisan yang dilakukan oleh Lincoln P. Bloomfield dan Allen Moulton dalam Managing International Conflict : From Theory to Policy , St. Martin, New York, 1997.

[13] Lihat pada contoh-contoh diagram 1.

[14] Lihat James E. Dougherty dan Robert L. Pfaltzgraff, Jr., Contending Theories of International Relations, A Comprehensive Survey, edisi ke-3, HarperCollins, New York, 1990, hal. 510.

[15] J. S. Badudu, Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia, Kompas, Jakarta, 2003.

[16]Misalnya kata teks untuk text yang sudah sering digunakan belum masuk ke kamus tersebut, padahal konteks untuk context sudah ada. Demikian pula aran gender, stake-holder, selebriti, diva, madam, autis, dan sebagainya. Periksa ibid.