Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Kuliah IV | Bambang Wahyu Nugroho

Kuliah IV

 

Kuliah IV

DESAIN RISET

Apa sifat-sifat dasar penelitian ilmiah dalam bidang sosial?

Definisi kita mengenai “penelitian ilmiah” adalah suatu model ideal yang diperuntukkan bagi penelitian kualitatif maupun kuantitatif, bahkan yang paling canggih, yang (sebenarnya) hanya sebuah “kecukupakuratan” (aproksimasi). Tapi kita tetap membutuhkan sebuah batasan bagi penelitian yang baik, karena kita menggunakan kata “ilmiah” sebagai pemaparnya. Kata ini hadir dengan banyak konotasi yang tidak terjamin atau tidak tepat atau ditulis untuk memancing perdebatan bagi beberapa peneliti kualitatif. Dengan demikian, kami memberi batasan yang eksplisit di sini. Sudah jelas, kami tidak mengakui bahwa penelitian kuantitatif lebih ilmiah daripada kualitatif. Penelitian yang baik, yaitu, penelitian ilmiah, yang gaya penelitiannya bisa kuantitatif bisa kualitatif. Tetapi dalam rancangannya, penelitian ilmiah mempunyai empat ciri sebagai berikut:

1. Tujuannya adalah inference (penyimpulan atau penarikan simpulan / inferensi).

Penelitian ilmiah didesain untuk menghasilkan inferensi-inferensi deskriptif atau eksplanatori berdasarkan data empirik. Paparan yang cermat mengenai fenomena tertentu seringkali merupakan hal yang tak dapat ditinggalkan dalam penelitian ilmiah, namun akumulasi data itu sendiri tidak mencukupi. Fakta-fakta bisa dikumpulkan (oleh peneliti kualitatif maupun kuantitatif) lebih kurang secara sistematis, dan tentu yang lebih sistematis lebih baik daripada yang kurang sistematis, tetapi definisi baku kita mengenai ilmu mempersyaratkan langkah tambahan dalam usaha untuk menduga sesuatu di luar data yang tersedia agar bisa mendeskripsikan sesuatu yang tidak langsung diamati. ‘Sesuatu’ itu bisa berupa penyimpulan deskriptif–yakni menggunakan pengamatan-pengamatan terhadap dunia untuk mempelajari fakta-fakta lain yang tak teramati. Atau, ‘sesuatu’ itu juga disebut penyimpulan kausal– yakni mempelajari akibat-akibat kausal dari data yang diamati. Wilayah penyimpulan itu bisa dibatasi dalam dimensi ruang dan waktunya –misalnya perilaku memilih di dalam pemilihan jabatan-jabatan publik di Amerika Serikat sejak tahun 1960, gerakan sosial di Eropa Timur sejak tahun 1989– ataupun bisa ekstensif –misalnya perilaku manusia sejak ditemukannya budaya cocok-tanam. Dalam setiap kasus yang diteliti, ciri-ciri kunci dalam penelitian ilmiah adalah tujuannya untuk menciptakan inferensi-inferensi yang bisa mengungkapkan sesuatu di luar hasil pengamatan khusus yang bisa dikumpulkan dalam penelitian itu.

2. Prosedurnya public (terbuka)

Penelitian ilmiah menggunakan metode-metode yang terdekripsikan secara jelas (eksplisit), terpadu (terkodifikasi), dan terbuka untuk kegiatan pengumpulan data dan analisisnya yang keandalannya dengan demikian bisa dinilai. Kebanyakan penelitian sosial yang menggunakan gaya kualitatif mengikuti lebih sedikit aturan-aturan baku prosedur penelitian atau dalam penyimpulannya. Sebagaimana diungkapkan oleh Robert K. Merton ([1949] 1968: 71-72), “Analisis sosiologis terhadap data kualitatif seringkali berada dalam suatu lingkup dunia yang tertutup berupa pandangan-pandangan yang tegas tetapi tak terduga dan pemahaman-pemahaman yang tak terlukiskan… [Tetapi,] ilmu pengetahuan … bersifat terbuka, tidak tertutup.” Pernyataan Merton tersebut tidak selalu berlaku bagi semua peneliti kualitatif (dan sayangnya juga berlaku bagi sebagian analisis kuantitatif), tetapi banyak hasil penelitian yang sepertinya tanpa metode –kadang kala seperti menganggap penggunaan metode yang terbuka (eksplisit) akan mengurangi kreativitasnya. Namun demikian mereka tidak bisa berbuat kecuali dengan menggunakan beberapa metode. Bagaimanapun mereka mengamati gejala, mengajukan permasalahan, mengumpulkan informasi dari apa yang diamatinya, dan membuat inferensi mengenai sebab dan akibatnya. Jika metode dan logika yang digunakan oleh peneliti itu bersifat tersembunyi (implisit), maka komunitas sarjana tidak punya jalan untuk menguji validitas penelitian tersebut. Kita tidak dapat mengevaluasi prinsip-prinsip pemilihan yang digunakan untuk merekam hasil pengamatan, cara dengan mana pengamatan itu akan dilakukan, dan logika dengan mana simpulan akan digambarkan. Kita tidak dapat belajar dari metode mereka atau mereplikasi simpulan-simpulannya. Penelitian yang seperti itu bukanlah sebuah tindakan penelitian yang terbuka. Apakah menjadi atau tidak menjadi bahan bacaan yang baik, hasil dari penelitian seperti itu bukan sebuah kontribusi bagi ilmu sosial.

Semua metode –apakah yang eksplisit ataupun yang tidak –memiliki batas-batas. Kegunaan keterbukaan (explicitness) adalah bahwa pembatasan itu bisa dipahami dan, jika memungkinkan, didiskusikan. Sebagai tambahan, metode-metode itu bisa diajarkan dan disebarluaskan. Proses ini memberi peluang bagi hasil-hasil penelitian untuk dibandingkan dengan hasil peneliti lain dan proyek-proyek penelitian bisa direplikasikan, dan sebagai bahan telaah para sarjana.

3. Simpulan-simpulannya bersifat tentative (tidak pasti / sementara)

Per definisi, inferensi merupakan proses yang tidak sempurna. Tujuannya adalah untuk menggunakan data kuantitatif ataupun kualitatif untuk mempelajari gejala sosial yang menghasilkannya. Mencapai secara semputna konklusi-konklusi tertentu dari data yang tidak pasti nampaknya mustahil. Memang ketidakpastian merupakan aspek sentral dari semua penelitian dan semua pengetahuan di dunia ini. Tanpa menggunakan estimasi yang beralasan mengenai ketidakpastiannya, suatu deskripsi mengenai dunia nyata atau suatu inferensi mengenai efek kausal di dunia nyata menjadi tidak dapat ditafsirkan. Seorang peneliti yang gagal menghadapi masalah ketidakpastian mungkin adalah orang yang merasa bahwa dirinya mengetahui segala-galanya secara sempurna atau bahwa dirinya tidak tahu seperti apa hasil-hasil yang pasti dan tidak pasti itu. Dengan kata lain, inferensi-inferensi tanpa ketidakpastian perhitungan bukanlah ilmu sebagaimana yang kita definisikan.

4. Muatannya adalah metode

Akhirnya, penelitian ilmiah merupakan seperangkat aturan-aturan penyimpulan di atas mana keabsahan hasil penelitian dipertaruhkan. Menjelaskan aturan-aturan yang paling penting merupakan suatu tugas utama buku ini. Muatan “ilmu pengetahuan” terutama adalah metode-metode dan aturan-aturan, bukanlah materi bahasannya, sehingga kita bisa menggunakan metode-metode itu untuk secara virtual mempelajari apa saja. Hal ini telah diakui lebih dari seabad yang lalu ketika Karl Pearson (1892:16) menjelaskan bahwa “bidang ilmu itu tak terbatas; materi bahasannya tak pernah berakhir; setiap kelompok fenomena alamiah, setiap fase kehidupan sosial, setiap tingkatan perkembangan masyarakat di masa lalu maupun kini merupakan obyek kajian ilmu pengetahuan. Kesatuan dari seluruh ilmu pengetahuan terkandung semata-mata dalam metodenya, bukan materi bahasannya.”

 

Keempat aspek ilmu tersebut berimplikasi lebih jauh: ilmu pengetahuan dalam bentuknya yang terbaik adalah suatu produk usaha sosial (social enterprise). Setiap peneliti atau tim peneliti bekerja di bawah keterbatasan pengetahuan dan pandangan, dan kesalahan-kesalahan pun tidak terhindarkan, tapi kesalahan-kesalahan seperti itu akan mungkin ditunjukkan oleh yang lain. Memahami karakter sosial dari ilmu pengetahuan bisa membebaskan, sebab itu berarti menyadari bahwa karya kita membutuhkan kritik dalam rangka menciptakan kontribusi yang penting – apakah terhadap paparan masalahnya atau konseptualisasinya, terhadap teori atau terhadap evaluasi atas suatu teori. Sepanjang karya penelitian itu dibahas secara eksplisit (atau usaha-usaha untuk mengubahnya) maka perhatian masyarakat ilmuwan dan penggunaan metode-metode yang terbuka dalam mencapai penyimpulan yang konsisten dengan aturan-aturan ilmiah, maka akan merupakan sumbangan bagi ilmu. Dan kontribusi itu atau bahkan sebuah artikel kecil menyumbang lebih besar daripada sebuah “karya besar” yang selama-lamanya tersimpan di dalam laci meja atau di dalam berkas komputer saja.

Desain Penelitian

Sebelum membuat desain riset, pahami dulu proses riset dalam diagram berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Interest = Minat
  2. Idea = Gagasan
  3. Theory = Teori
  4. Conceptualization = Konseptualisasi
  5. Population and Samping = Semesta dan Sampling
  6. Choice of Research Method = Pemilihan Metode Penelitian
  7. Operationalization = Operasionalisasi
  8. Observation = Pengamatan
  9. Data Processing = Pemrosesan Data
  10. Analysis = Analisis
  11. Application = Penerapan

1. Interest/Minat

Gejala-gejala sosial dapat menimbulkan minat peneliti karena:

  • kepekaan peneliti
  • minat (motivasi & orientasi)
  • akal sehat (common-sense)

John Dewey: The felt need

2. Idea/Gagasan

Merumuskan pertanyaan dan menentukan jawaban sementara serta tujuan penelitian

  • eksploratif/penjajakan
  • deskriptif/pemaparan, ingat prinsip 4w+h (what where who when, how), berkenaan dengan satu (1) hal saja
  • eksplanatif/penjelasan, menjawab pertanyaan “why” a –> b (mengapa terjadi fakta “b”?)
  • prediktif/prakiraan b –> c (dengan adanya “b” lantas apa yang akan terjadi?)
  • preskriptif/saran kebijakan atau rekomendasi, misalnya studi kelaikan
  • evaluatif/pengujian, biasanya menentukan soal efektfitas dan/atau efisiensi

3. Theory/Teori

Teori adalah entitas gagasan yang sistematik dan berdaya eksplanasi sehingga dapat membantu memusatkan perhatian peneliti supaya lebih mudah menentukan hipotesis (idea).

Temukan petunjuk selanjutnya di sini

4. Conceptualization = konseptualisasi

Kegiatan konseptualisasi dilakukan untuk menentukan konsep dan variabel yang hendak diteliti

5. Population and Sampling

Menentukan bagaimana variabel-variabel yang hendak diteliti akan diukur nilainya à menentukan definisi operasional.

6. Choice of Research Method

7. Operationalization

8. Observation = pengamatan

Kegiatan pengumpulan data untuk keperluan analisis dan penarikan kesimpulan

9. Data processing = proses manipulasi data

Mentransformasikan data yang telah dkumpulkan ke dalam bentuk yang tepat untuk keperluan manipulasi dan analisis

10. Analysis = analisis data

Menginterpretasikan data yang telah dimanipulasi dan menarik kesimpulan.

Informasi Pendaftaran Mahasiswa Baru UMY

© 2016 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta | Created by Biro Sistem Informasi UMY